Senin, 24 November 2014

Cara memelihara pohon anggur




Penjarangan dan Penyulaman
  • Di dalam penjarangan buah anggur adalah hal yang perlu diperhatikan secara serius Karen nantinya merupakan hal yang akan sangat mempengaruhi kualitas buah yang akan dihasilkan. Jika tidak dilakukan penjarangan buah anggur dalam budidaya tanaman anggur maka akan merusak perkembangan buah anggur itu sendiri dan juga akan menurunkan kualitas dari buah. Buah yang perlu dibuang adalah buah yang :
  1. Memiliki bertangkai panjang;
  2. Tidak sempurna bentuknya;
  3. Buah yang terbentuk tanpa adanya persarian.
  4. Buah yang ada di sebelah dalam;
  • Tahap penjarangan dilakukan  saat umur satu bulan setelah pembungaan dan penjarangan kedua saat buah masih pentil, tahap kedua ini dilakukan dua minggu setelah tahap satu dan buah sebesar biji jagung. Jangan lupa dilakukan pembrongsongan (pembungkusan) buah. Kapan pembungkusan dilakuikan? Pembungkusan dilakukan dalam satu dompol buah sudah ada dua atau tiga buah yang masak dengan  kertas semen ataupun  koran.
  • Terus kapan penyulaman dilakukan? Penyulaman hanya dilakukan bila terdapat tanaman yang tidak sehat/ matiyang dilakukan secara  rutin bersamaan saat penyiraman karena anggur perlu perhatian berkelanjutan.
Penyiangan
  • Kapan dilakukan penyiangan? Penyiangan tanaman buah anggur dilakukan jika terdapat tanaman pengganggu.
Perempalan
Perempalan di sini terdiri perempalan bentuk pada anggur dan untuk pembuahan.
  • Perempalan bentuk pada anggur dilakukan saat tanam sampai dengan berumur 1 tahun. Tujuan perempalan ini adalah untuk mendapat pertumbuhan yang baik. Caranya yaitu dengan  membuang tunas-tunas yang tidak perlu dan membiarkan satu tunas yang baik sebagai batang pokok.
  • Perempalan untuk pembuahan dilakukan setelah perempalan bentuk yaitu saat anggur berumur 1 tahun. Tips dalam perempalan ini dilakukan yaitu periksalah dahulu dengan memotong ujung salah satu cabang, bila meneteskan air perempalan dilaksanakan, namun jika tidak meneteskan air harus ditunda. Perempalan dilakukan dengan memotong ranting-ranting, dengan meninggalkan 2-4 mata tunas dan semua daun dibuang sehingga tanaman jadi gundul. 
Pelaksanaan dalam 1 tahun dilakukan 3 kali:
  • Tahap Pertama yaitu Bulan Maret - April (90-110 hari)
  • Tahap Kedua yaitu Bulan Juli - Agustus (90-110 hari)
  • Tahap Ketiga yaitu Bulan Nopember - Desember, tahap ini sering gagal
Perempalan antara bulan November-Desember, tidak memperoleh hasil. Tujuannya hanya untuk memelihara kesuburan tanaman sampai musim hujan berakhir dan tanaman tidak rusak.
Pemupukan
Ada dua masa pemupukan tanaman anggur yang dilakukan yaitu:
a) Pemupukan saat umur 0 - 1 tahun yang terbagi menjadi
  • Umur 0-3 bulan, 10 gram urea, interval 10 hari
  • Umur 3-6 bulan, 15 gram urea, interval 15 hari
  • Umur 6-12 bulan, 50 gram urea
Cara pemberian dengan membuat larikan melingkar sekeliling tanaman diameter 10-20 cm kira-kira sedalam 5 cm.
b) Pemupukan tanaman umur 1 tahun - seterusnya
  • Umur 21 hari sebelum perempalan, 5 kaleng pupuk kandang
  • Umur 11 hari sebelum perempalan, 80 gram TSP/100 gram ZK
  • Umur 7 hari sebelum perempalan, 100 gram urea
Untuk pupuk kandang diberikan sekali dalam setahun, baru untuk tahun kedua dosisnya ditambah menjadi 10 kaleng. Pupuk buatan dinaikkan dosisnya urea 600 gram, TSP 300 gram, ZK 450 gram. Cara pemberian pupuk dengan pembuatan larikan sekitar tanaman dengan diameter kira-kira 1,5 M.
Penyiraman
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyiraman atau pengairan yaitu:
  • Tanaman anggur tidak tahan terhadap air yang tergenang [baca juga Bibit Anggur].
  • Tanaman anggur membutuhkan pengairan mulai tanam sampai pemangkasan.
  • Menjelang pemangkasan, 3-4 minggu sebelumnya pemberian air harus distop.
  • Setelah masa pemangkasan, 2-3 hari sebelumnya diberi air kembali sampai ujung ranting mengeluarkan air.
  • Pemberian dilakukan sampai buahnya hampir masak, setelah mulai tua pemberian air dihentikan. Tujuan penghentian penyiraman agar buah tidak pecah dan menjadi busuk.
Penyemprotan
  • Tujuan dari kegiatan penyemprotan insektisida adalah sebagai pencegahan terhadap hamapenganggu. Penyemprotan harus dihentikan 15 hari sebelum panen. Khusus untuk hama Phyiloxera Vitifolia digunakan insektisida Furadan 3G/Temik 1 OG.
Pengaturan Bunga 
Setelah 2 minggu pemangkasan pembuahan, cabang tersier yang baru tumbuh mengeluarkan sulur-sulur pembentukan bunga yang keluar dari mata ke 3, 4 dan 5. Jika ada cabang tersier yang tidak mengeluarkan sulur dapat diadakan pemotongan, caranya dengan meninggalkan 3 mata yang bertujuan untuk merangsang pertumbuhan sulur. Cabang tersier yang baru muncul disisakan satu sulur saja, supaya menghasilkan dompolan bunga yang besar dan buahnya bisa berkualitas baik.

Tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas. Poir)

http://adf.ly/uYcMJ


PENDAHULUAN
      Tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas. Poir) di Indonesia merupakan salah satu tanaman yang cukup penting, baik sebagai makanan pokok alternatif di musim paceklik maupun makanan tambahan dalam rangka diversifikasi makanan. Ubi jalar mengandung air 64,60-79,59%, abu 0,92-0,98%., pati 17,06-28,19%, Protein 1,19-2,07%, gula 0,38-0,43%, serat kasar 2,16-5,24% dan beta karoten 17,42-51,20%. Oleh karena itu ubi jalar memegang peranan penting dalam ketahanan pangan masyarakat.
Hampir seluruh bagian ubi jalar dapat dimanfaatkan yaitu a) Daun: sayuran, pakan ternak, b) Batang: bahan tanam, pakan ternak, c) Kulit ubi: pakan ternak, d) Ubi segar: bahan makanan, e) Tepung ubi jalar: makanan, f) Pati ubi jalar : fermentasi, pakan ternak, asam sitrat.
      Di Jepang, ubi jalar dimanfaatkan sebagai bahan pangan tradisional dan dipromosikan setara hamburger dan pizza. Di negara tersebut berbagai makanan berbahan baku ubi jalar banyak dijumpai di toko-toko dan restoran bertarap internasional. Ubi Jalar Cilembu ST 1, sejak lama menembus pasar Singapura, Malaysia, Korea, dan Jepang.
     Ubi Cilembu ST 1, merupakan salah satu komoditi palawija unggulan di Kabupaten Sumedang, varietas tersebut telah dirilis oleh menteri pertanian pada Tahun 2001. Nama cilembu diambil dari nama daerah asal ubi tersebut diproduksi yaitu Desa Cilembu Kecamatan Pamulihan, ST merupkan singkatan dari Sumedang Tandang, sedangkan angka 1 menunjukan bahwa di Kabupaten Sumedang memiliki varietas lokal ubi jalar lain yang memiliki keunggulan tidak jauh berbeda dengan Cilembu ST 1, namun belum di rilis oleh menteri pertanian.
     Ubi ini hanya memiliki rasa dan aroma yang khas apabila di tanam di daerah Cilembu dan sekitarnya. Tanaman ubi jalar yang tumbuhnya baik dan tidak mendapat serangan hama penyakit yang berarti (berat) di Kecamatan Pamulihan dapat menghasilkan umbi basah 15-20 ton sedangkan di Kecamatan Rancakalong dapat menghasilkan 20- 25 ton ubi basah per hektar.
     Keunggulan ubi jalar ini adalah apabila ubi yang telah disimpan lebih dari 10 hari , dimasak dengan cara dioven selama 30-90 menit (bergantung ukuran), bagian tengah umbi akan menghasilkan cairan sangat manis seperti madu. Lebih manisnya ubi jalar cilembu disebabkan kadar gula ubi cilembu lebih tinggi dari ubi jalar lain yaitu ubi mentah mencapai 11-13% dan ubi masak 19-23%, sehingga sangat digemari oleh konsumen
Kulit ubi cilembu berwarna putih kekuningan (gading) dengan bentuk umbi bulat memanjang , berbentuk panjang. Ubi ini memiliki keunikan lain yaitu tidak mengakibatkan gangguan perut meskipun dimakan sebelum sarapan.

BUDIDAYA TANAMAN
A. Pembibitan
Tanaman ubi jalar dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan secara vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman secara generatif hanya dilakukan pada skala penelitian untuk menghasilkan varietas baru.
1. Persyaratan Bibit
Bahan tanaman (bibit) berupa stek pucuk atau stek batang harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  • Bibit berasal dari varietas Cilembu ST
  • Bahan tanaman berumur 2 bulan atau lebih.
  • Bahan tanaman (stek) dapat berasal dari tanaman produksi dan dari tunas-tunas ubi yang secara khusus disemai atau melalui proses penunasan.
  • Perbanyakan tanaman dengan stek batang atau stek pucuk secara terus-menerus cenderung menurunkan hasil pada generasi-generasi berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi untuk bahan perbanyakan.

2. Penyiapan Bibit
  • Pilih tanaman ubi jalar yang sudah berumur 2 bulan atau lebih, pertumbuhannya sehat dan normal tidak terlalu subur.
  • Stek dipotong sepanjang 25-30 cm atau 3-4 ruas, diambil dari ujung batang atau cabang dan maksimal 3 stek untuk setiap cabang atau batang bagian tanaman bibit, pemotongan menggunakan pisau yang tajam, dan dilakukan pada pagi
  • Setelah dipotong, bibit direndam dalam larutan fungisida dengan konsentrasi 2 g/L larutan selama 5 menit


Pengolahan Tanah
a) Penyiapan Lahan Tegalan
  • Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma)
  • Olahan tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur sambil membenamkan rumput-rumput liar
  • Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu
  • Buat guludan-guludan dengan ukuran lebar bawah 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, dan panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan
  • Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air.

b) Penyiapan Lahan Sawah Bekas Tanaman Padi
  • Babat jerami sebatas permukaan tanah
  • Tumpuk jerami secara teratur menjadi tumpukan kecil memanjang berjarak 1 meter antar tumpukan
  • Olah tanah di luar bidang tumpukan jerami dengan cangkul atau bajak, kemudian tanahnya ditimbunkan pada tumpukan jerami sambil membentuk guludan. Ukuran guludan adalah lebar bawah 60 cm, tinggi 40 cm, lebar atas 40 cm ( untuk ukuran guludan dengan jarak antara gulud 100 cm ) sedangkan untuk jarak antar guludan 80 cm digunakan ukuran lebar bawah 50 cm, lebar atas 30 cm, tinggi guludan 30 cm
  • Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan. Pembuatan guludan di atas tumpukan jerami atau sisa-sisa tanaman dapat menambah bahan organik tanah yang berpengaruh baik terhadap struktur dan kesuburan tanah sehingga ubi dapat berkembang dengan baik dan permukaan kulit ubi rata. Kelemahan penggunaan jerami adalah pertumbuhan tanaman ubi jalar pada bulan pertama sedikit menguning, namun segera sembuh dan tumbuh normal pada bulan berikutnya.

Bila jerami tidak digunakan sebagai tumpukan guludan, tata laksana penyiapan lahan sebagai berikut :
  • Babat jerami sebatas permukaan tanah
  • Singkirkan jerami ke tempat lain untuk dijadikan bahan kompos
  • Olah tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur
  • Biarkan tanah kering selama minimal satu minggu
  • Buat guludan-gululudan berukuran lebar bawah ±60 cm, tinggi 35 cm dan jarak antar guludan 80-100 cm.
  • Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan.

Hal yang penting diperhatikan dalam pembuatan guludan adalah ukuran tinggi tidak melebihi 40 cm. Guludan yang terlalu tinggi cenderung menyebabkan terbentuknya ubi berukuran panjang dan dalam sehingga menyulitkan pada saat panen. Sebaliknya, guludan yang terlalu dangkal dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan atau perkembangan ubi, dan memudahkan serangan hama boleng Cylas sp.


Teknik Penanaman
  • Penanaman ubi jalar di lahan kering dilakukan pada awal musim hujan (Oktober), atau awal musim kemarau (Maret) bila keadaan cuaca normal. Dilahan sawah, waktu tanam yang paling tepat adalah segera setelah padi rendengan atau padi gadu, yakni pada awal musim kemarau
  • Penanaman stek dilakukan pagi hari, setelah direndam dalam larutan fungisida, stek sebaiknya searah ( menghadap ke timur ) agar pertumbuhan tanaman menjadi searah
  • Stek ditanam miring pada guludan, dengan 1/2-2/3 bagian masuk ke dalam tanah. Jarak tanam 30-40 cm
  • Pada tiap bedengan ditanam 2 deretan dengan jarak kira-kira 30-40 cm.

Pemeliharaan Tanaman
1. Penyulaman
Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus diamati kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit yang mati harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu tidak terlalu panas. Bibit (setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam ditempat yang teduh.
2. Penyiangan
Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan biasanya mudah ditumbuhi rumput liar (gulma) yang merupakan pesaing dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara, dan sinar matahari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersamaan dengan penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan, kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.
Pengendalian gulma dilakukan secara manual menggunakan kored dan cangkul pada umur 2 minggu setelah tanam (MST), 5 MST, dan 8 MST atau dilakukan tergantung dari keadaan rumput
Tata cara penyiangan dan pembumbunan sebagai berikut:
  • Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati agar tidak merusak akar.
  • Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan.
  • Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan pengairan hingga tanah cukup basah

3. Pemupukan
Pemupukan bertujuan menggantikan unsur hara yang terangkut saat panen, menambah kesuburan tanah, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Sebaiknya lahan dipupuk dengan pupuk organik baik pepuk kandang maupun kompos dengan dosis 10.000 - 20.000 ton/ha. Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau tanaman di daerah setempat. Sebagai acuan dosis pupuk/ha yang dianjurkan adalah :
- 100 kg N ( ± 200-250 kg Urea)
- 50 Kg P2O5 (± 100-150 kg TSP/SP-36)
- 200 kg K2O (± 300-350 kg KCL)
Pemberian pupuk dilakukan dalam larikan dengan jarak garitan 10 cm dari lubang setek sedalam 5 cm. Waktu pemupukan sebagai berikut:
- Saat tanam : Urea diberikan 1/3 takaran, SP-36, KCL diberikan seluruhnya pada saat tanam.
- Umur 6 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran
- Umur 12 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran
4. Pembalikan batang dan pucuk
      Pembalikan batang dan pucuk bertujuan untuk meningkatkan hasil umbi, pembalikan dan pengangkatan batang dilakukan tiap 3 minggu sekali, sebab pada tanaman yang pertumbuhannya subur dalam waktu satu bulan akan menjalar sepanjang 1-1,5 m. Bila batang terus dibiarkan menjalar di atas tanah dengan segera akan tumbuh akar di ketiak-ketiak daun. Akar akan membentuk umbi-umbi kecil yang mengurangi cadangan makanan bagi umbi di batang utama. Pembalikan batang dimaksudkan untuk mematikan akar yang tumbuh pada ketiak daun.


5. Pemangkasan
      Tanaman yang terlalu subur perlu dipangkasan sebab tanaman yang daunya terlalu rimbun akan mengurangi hasil umbi. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau tajam. Mengenai berapa daun yang harus dibuang tidak bisa ditentukan kapasitasnya karena sangat tergantung pada keadaan tanaman. Pemangkasan dilakukan pada sulur-sulur yang merayap dalam saluran di sela-sela bedengan. Hasil pemangkasan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.
6. Pengairan dan Penyiraman
Meskipun ubi jalar tahan kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan air tanah yang memadai.
  • Seusai tanam, guludan diairi selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dibuang.
  • Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga tanaman berumur 1-2 bulan.
  • Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan.
  • Waktu pengairan yang paling baik pagi atau sore hari.
  • Di daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu seminggu sekali. Hal yang penting diperhatikan dalam pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang).

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
A. Hama
a) Penggerek Batang Ubi Jalar
      Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar adalah larva (ulat). Cirinya adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat). Gejala: terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati. Pengendalian: (1) rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama; (2) pengamatan tanaman pada stadium umur muda terhadap gejala serangan hama: bila serangan hama >5%, perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi; (3) pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang berat; (4) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang dianjurkan.
b) Hama Boleng atau Lanas
      Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius Fabr.) berupa kumbang kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru, namun toraknya berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun sambil meletakkan telur di tempat yang terlindung (ternaungi). Telur menetas menjadi larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada batang atau ubi yang terdapat di permukaan tanah terbuka. Gejala: terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah berubi. Bila hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata. Pengendalian: (1) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili dengan ubi jalar, misalnya padi-ubi jalar-padi; (2) pembumbunan atau penimbunan guludan untuk menutup ubi yang terbuka; (3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang terserang hama cukup berat; (4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman ubi jalar secara periodik: bila ditemukan tingkat serangan > 5 %, segera dilakukan tindakan pengendalian hama secara kimiawi; (5) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, dengan konsentrasi yang dianjurkan; (6) penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak; (7) pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang lebih berat.
c) Tikus (Rattus rattus sp)
     Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang berumur cukup tua atau sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini menyerang ubi dengan cara mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak secara tidak beraturan. Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi dan kadang-kadang diikuti dengan gejala pembusukan ubi. Pengendalian: (1) sistem gerepyokan untuk menangkap tikus dan langsung dibunuh; (2) penyiangan dilakukan sebaik mungkin agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; (3) pemasangan umpan beracun, seperti Ramortal atau Klerat.
B. Penyakit
a) Kudis atau Scab
     Penyebab: cendawan Elsinoe batatas. Gejala: adanya benjolan pada tangkai serta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk. Tingkat serangan yang berat menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan fotosintesis sehingga hasil ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali. Pengendalian: (1) pergiliran/ rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit; (2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara intensif; (4) penggunaan bahan tanaman (bibit) yang sehat.
b) Layu fusarium
     Penyebab: jamur Fusarium oxysporum, F. batatas. Gejala: tanaman tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan fusarium dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan penyakit dapat terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit. Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi tanaman yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3) penanaman jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium.
c) Virus
     Beberapa jenis virus yang menyerang tanaman ubi jalar adalah Internal Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow Dwarf. Gejala: pertumbuhan batang dan daun tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan. Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman selama beberapa tahun, terutama di daerah basis (endemis) virus; (3) pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan.
d) Penyakit Lain-lain
     Penyakit-penyakit yang lain adalah, misalnya, bercak daun cercospora oleh jamur Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan ubi oleh jamur Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh jamur Albugo ipomeae pandurata Schweinitz. Pengendalian: dilakukan secara terpadu, meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit yang sehat, sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida selektif.
PANEN
1. Ciri dan Umur Panen
     Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua (matang fisiologis). Ciri fisik ubi jalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya sudah maksimum, ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus (dikukus) rasanya enak serta tidak berair. Penentuan waktu panen ubi jalar didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau varietas ubi jalar berumur pendek (genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang (dalam) sewaktu berumur 4,5-5 bulan. Panen ubi jalar yang ideal dimulai pada umur 3 bulan, dengan penundaan paling lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada umur lebih dari 4 bulan, selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga tidak akan memberikan kenaikan hasil ubi.
2. Cara Panen
Tata cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:
  • Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen.
  • Potong (pangkas) batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.
  • Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.
  • Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil.
  • Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.
  • Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau penyakit.
  • Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan (pengumpulan) hasil.

PASCAPANEN
1. Pengumpulan
    Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan. Pemilihan atau penyortiran ubi jalar dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung atau setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi berdasarkan warna kulit umbi kecacatan, ukuran umbi, bentuk serta bercak hitam/garis- garis pada daging umbi.
2. Penyimpanan
   Penyimpanan ubi jalar cilembu selain ditujukan untuk mempertahankan daya simpan, juga bertujuan agar umbi lebih manis. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu dengan cara sebagai berikut:
  • Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari.
  • Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik.
  • Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup. Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen. Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-300C (suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90%.
  • Penyimpanan juga dapat dilakukan pada rak-rak atau menghindari penyimpanan umbi di lantai secara langsung atau dalam keranjang bambu dengan alas berupa abu atau pasir kering dan Penyimpanan ubi pada para-para ( rak bambu ) yang diletakan dekat dapur

Senin, 25 Agustus 2014

Kangkung (Ipomoea Spp.)






adalah sayuran yang sangat populer, karena selain harganya paling murah, juga memiliki cukup banyak peminat. Sayuran yang konon berasal dari India ini, bisa ditanam di hampir seluruh wilayah di Indonesia, karena kangkung memang dapat hidup dengan baik di mana saja, baik di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah. Kelebihan lain dari kangkung adalah cara pembudidayaannya yang relatif mudah, bersiklus panen cepat yakni 4-6 minggu sejak dari benih dan tahan terhadap hama.
Ada dua jenis kangkung yang beredar di pasar-pasar komersial, yakni kangkung darat dan kangkung air. Namun, saat ini kangkung darat lebih banyak dijual di pasar, karena selain lebih sehat juga lebih banyak petani yang membudidayakannya. Untuk membudidayakan kangkung darat dan tahapan-tahapan apa saja yang harus dilalui, sebagai berikut :

1. Pembibitan kangkung
Bibit kangkung berupa kangkung muda berukuran 20 -30 cm yang memiliki batang serta daun yang besar dan bagus. Bibit tersebut bisa diperoleh lewat dua cara, yakni dengan stek batang lalu ditancapkan ke tanah, atau dengan menanam biji kangkung yang kering dan berkualitas baik.
Benih kangkung yang telah dipersiapkan selanjutnya ditanam dengan jarak tanam 1,5 x 15 cm. Jika benih tersebut berasal dari biji, untuk lahan seluas 10 m2, diperlukan benih sekitar 300 gram, jika tiap lubang diisi dengan 2-3 butir biji. Pada cuaca kering, lakukan penyiraman terhadap benih secara teratur.

2. Pengolahan Media Tanam
Untuk membuat media tanam bagi tanaman kangkung, dibutuhkan tanah yang diberi pupuk kompos. Di atas tanah/lahan tersebut kemudian dibuat petakan-petakan/bedengan, dengan panjang tergantung kondisi lahan. Selanjutnya, tancapkan tugal di atas bedengan dengan jarak 20 x 20 cm.

a. Mengolah lahan
Sebelum penanaman dilakukan, +/- 3 minggu, tanah harus terlebih dahulu diolah dengan cara mencampurkan 10 ton pupuk kompos atau pupuk kandang untuk setiap hektar lahan. Beri air dengan ketinggian 5 cm dan biarkan air tersebut tergenang sambil diberi urea dengan dosis 1 kuintal per hektar.

b. Membuat bedengan
Tahap selanjutnya dalam pembuatan media tanam adalah membuat bedengan dengan ukuran lebar 0,8-1,2 m, panjang 3-5 m, dalam ± 15-20 cm dan jarak antar bedeng yang dibuat selokan sepanjang 50 cm. Namun, ukuran tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia. Tujuan dibuatnya bedengan selain untuk membantu kelancaran keluar-masuknya air, juga untuk memudahkan pemeliharaan serta kegiatan yang lain.

c. Pemupukan
Terkait dengan pengolahan media tanam, pemupukan juga harus diperhatikan. Seminggu sebelum tanam atau setelah bedengan selesai dibuat, media tanam diberi pupuk dasar berupa pupuk kandang. Pemupukan kembali dilakukan saat usia tanaman seminggu dan dua minggu dengan menggunakan pupuk urea yang dicampur air lalu disiramkan pada pangkal tanaman. Sebelum dilakukan pemupukan, lahan terlebih dahulu harus dikeringkan selama 4 – 5 hari. Pupuk yang dibutuhkan untuk setiap hektar lahan adalah 10 – 20 ton pupuk organik dan 100 – 250 kg pupuk urea.

3. Teknik Penanaman
Sebelum dilakukan proses penanaman, buatlah terlebih dahulu lubang tanam dengan menggunakan tugal sedalam +/- 5 cm berjarak 20 X 20 cm atau disesuaikan dengan luas lahan. Proses penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari antara jam 16.00 – 18.00. Tujuannya adalah agar benih yang baru ditanam tidak langsung mendapat udara kering yang membuat benih cepat berkecambah.

4. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman menyangkut beberapa hal seperti cara penjarangan, penyulaman, penyiangan, pemupukan, penyiraman,dan penyemprotan pestisida untuk penanggulangan hama dan penyakit

a. Penjarangan
Penjarangan dilakukan apabila tanaman kangkung dalam satu rumpun terlalu lebat dan berdesakan. Tapi jika sebaliknya, tanaman banyak yang mati, maka harus segera diganti dengan bibit baru atau dilakukan penyulaman.

b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan jika di lahan tanam banyak terdapat gulma atau rumput liar. Penyiangan biasanya dilakukan setiap 2 minggu sekali.

c. Pemupukan
Agar unsur hara yang dibutuhkan tanaman terpenuhi, harus pula dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk urea yang dilarutkan ke dalam air kemudian disiramkan pada tanaman kangkung. Pemupukan selama masa pemeliharaan ini cukup dilakukan satu kali.

d. Penyiraman
Jika tidak sedang musim hujan, lakukan penyiraman dua kali sehari agar tanaman kangkung tidak mengalami kekeringan. Penyiraman dilakukan pada pagi (jam 07.00) dan sore (jam 17.00) hari, karena tanaman kangkung butuh banyak air dalam pertumbuhannya. Namun jika sedang musim hujan rutin tanaman tidak perlu disiram dengan terlalu sering.

e. Penyemprotan pestisida
Selama pertumbuhannya, tanaman kangkung darat seringkali terserang ulat berwarna putih yang berada di helai daun bagian bawah. Untuk menanggulangi ulat putih tersebut, semprotkan pestisida pada sore hari dengan dosis 2 cc per liter air.

5. Hama dan Penyakit
Hama yang seringkali menyerang tanaman kangkung pada umumnya tidak ganas, seperti: belalang dan ulat daun. Untuk mencegah dan mengendalikannya agar tidak terjadi over populasi, semprotkanlah Sevin. Sedang untuk memberantas ulat daun, gunakan Insektisida dengan dosis 2 cc untuk setiap liter air dan semprotkan pada tanaman. Ketika melakukan pembasmian hama, lahan sebaiknya dikeringkan selama 4-5 hari, sebelum diairi kembali.
Penyakit pada tanaman kangkung sebenarnya tidak perlu terlalu dicemaskan karena pada dasarnya tanaman ini tahan terhadap penyakit. Hanya saja perlu dilakukan sedikit perlindungan terhadap penyakit jamur yakni karat putih (Albugo Ipomoea panduratae).

6. Panen dan Pasca Panen
Tanaman kangkung sudah dapat dipanen untuk pertama kalinya pada hari ke-12. Ketika itu, panjang batangnya sudah mencapai kira-kira 20-25 cm dan berdaun lebar. Cara memanennya dengan memangkas batangnya menggunakan alat pemotong dan menyisakan sekitar 2-5 cm di atas permukaan tanah, atau dengan cara mencabut tanaman berikut akarnya, untuk kemudian dicuci dengan air. Waktu panen dilakukan di sore hari, dan kondisi lahan harus basah namun tidak berair (lembab).
Panen dapat dilakukan 2-3 minggu sekali. Setiap habis panen, akan terbentuk cabang-cabang baru. Produksi kangkung akan menurun setelah dilakukan 10-11 kali panen. Disaat itu, tanaman kangkung sudah menghasilkan sekitar 15 ton untuk setiap hektar lahan. Jika kangkung terlihat berbunga, sisakan tanaman yang ada di lahan seluas ± 2 m2 untuk dikembangkan menjadi biji bakal benih. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat biji benih sampai dapat dikeringkan kira-kira 40 hari.
Kangkung yang sudah dipanen, selanjutnya dikumpulkan untuk disatukan sebanyak 15-20 batang kangkung dalam satu ikatan. Agar tidak cepat layu saat disimpan sebelum dipasarkan, kangkung yang telah diikat dicelupkan ke dalam air tawar yang bersih dan ditiriskan dengan menggunakan anjang-anjang.